Reasons why Indonesia is still unable and unwilling to manage waste

Published by Team WISE on

As part of our capacity building project with HMTL ITB, we asked the members to share their thoughts on the causes and solutions to poor waste management in Indonesia. Here, we would like to share the answer from Farrah Meidy Damara. What do you think? Do you agree with what Farrah says?

[Original answer in Bahasa Indonesia below]

Indonesia is problematic? The answer is, of course, YES. Are the problems in Indonesia complex? According to me, YES. I am a student of Environmental Engineering, and if I were asked ‘Are there environmental problems in Indonesia?’ I would clearly answer, YES… especially for “waste management”.

Indonesia is one of the developing countries that, in my opinion, possess sufficient production capacity for many types of goods from food products to transportation equipment. If there is production, there are definitely products, and if there are products there is definitely waste. This waste could be solid, liquid or gaseous. Making products requires a process, and this process definitely has the potential to produce waste. There are many opportunities for “waste” to generate and grow.

Since all human activities will inevitably produce waste, so what? Must we stop all production processes? OF COURSE NOT. The simple reason is that ‘stopping production processes will not meet survival needs’. Then what? What is the actual issue? OF COURSE WASTE. How can we overcome this waste problem so that it doesn’t have a negative impact on the environment and its components? With WASTE MANAGEMENT.

I am sure that the topic of waste management is familiar to the minds and ears of the communities now. From kindergarten to work, the slogan “Don’t throw waste indiscriminately!” or “Throw waste in the right place!” is definitely familiar. Waste management technology? There are already many, from composting to landfill to incinerators. I myself from Environmental Technology have already learned about the biological, physical and chemical aspects of waste management. I am also one of the members of HMTL ITB, and we have already conducted socialization activities with the campus and communities, but so what? It is very difficult to alleviate waste problems.

According to my experience with several community service activities, there are two main factors why it usually difficult for Indonesian communities to limit their waste:

  1. No awareness and willingness
  2. Even if there awareness and willingness, there are no facilities to support it

With regard to the first point, communities tend to think simple, such as in the example of my conversation with one housewife:

Me: Mam, where do you throw your waste?

Housewife: If it is vegetable waste I throw it directly behind my house, and later cover it with soil.

Me: If it is not vegetable waste where do you throw it?

Housewife: I just burn it. If I am lazy to burn it I will throw it nearby because there is a rubbish bin there.

Me: If the rubbish bin is full what do you do?

Housewife: While waiting for the waste collector to collect the waste, I just find empty land

Me: Is there a waste bank in this area?

Housewife: No, I am busy with my own affairs, I do not have time for non-urgent things.

Me: If you have no work do you want to?

Housewife: Yes, the waste can be sold right?

Me: Yes, it is not difficult. Plastic waste can be processed as accessories and sold later.

And so on.

The conversation above demonstrates the community’s limited awareness and willingness towards the environment from the community. However, when there is awareness and willingness to fix things, there are no facilities to support it. Who is at fault? The government who does not provide the facilities? Or the community who does not innovate to overcome its own problems? If you want to place blame, both parties are at fault. The poor habits of the community continue to be cultivated and become strong roots that are difficult to uproot. The government also does not monitor the community much. The government is active in making simple regulations complicated, but is not concerned about whether the regulations can be applied to the community or not, such as writing it in a language style that is often difficult to understand.

In my opinion, what must be done is to “unite” the community and government. Make everything transparent between both parties, understand the existing conditions mutally, and do not be arrogant. The principal of “win-win solutions” should be developed. When the government has the goal of improving the conditions of Indonesia, the community should be involved in helping to realise it. On the other hand, if the community needs support to meet its needs, the government should try to help as well.

What can go wrong when both parties coordinate with each other? Good communication bridges the two parties in order to achieve one goal together. If there is only one party who wants to progress and develop without the support of the other party, it definitely cannot happen. Life has a cycle, mutually dependent and supportive of each other. If one loses the other also loses. If both parties coordinate successfully, problems in the regions of Indonesia will definitely decrease. At the heart of the issue is communication and coordination.

——————————————————————————————————-

Alasan kenapa Indonesia belum bisa dan mau me-manage buangannya?

Indonesia bermasalah? Jawabanya tentu saja IYA. Rumitkah masalah di Indonesia? Menurut saya IYA. Saya adalah salah satu mahasiswi Teknik Lingkungan, lalu jika ditanya, ‘Apa lingkungan di Indonesia bermasalah?’ Jelas saya akan menjawab, IYA… terutama mengenai “waste management” nya.

Indonesia adalah satu satu negara berkembang yang menurut saya memiliki kemampuan memproduksi suatu barang yang cukup tinggi, mulai dari produksi bahan pangan, hingga produksi alat transportasi. Jika ada produksi, tentu saja ada produk, jika ada produk pasti memiliki limbah, entah itu berupa limbah padat, cair, ataupun limbah gas. Dalam menghasilkan produk, tentu memiliki proses, dimana proses tersebut juga pasti akan berpotensi menghasilkan limbah. Begitu banyak kesempatan si “limbah” ini untuk beranak dan berkembang.

Seluruh kegiatan manusia pasti menghasilkan limbah, lalu apa? Apa harus dihentikan semua proses produksi? TENTU SAJA TIDAK. Alasan sederhananya adalah ‘proses produksi berhenti maka kebutuhan hidup tidak akan terpenuhi’. Iya sekarang apa? Apa sebenarnya yang dipermasalahkan? TENTU SAJA LIMBAHNYA, bagaimana kita menangani masalah limbah ini agar tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan komponennya? Dengan cara WASTE MANAGEMENT.

Saya yakin topik mengenai pengolahan limbah sudah tidak asing lagi di telinga dan di pikiran masyarakat sekarang, dari TK hingga Kerja, slogan “Jangan buang sampah sembarangan!” atau “Buanglah sampah pada tempatnya!” pasti mengenalnya. Teknologi pengolahan limbah? Sudah sangat banyak, mulai dari composting hingga landfill ataupun insenerator. Saya sendiri dari bidang Teknik LIngkungan sudah mempelajari mengenai pengolahan limbah itu sendiri secara biologis, fisika, dan kimia.

Saya juga salah satu anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB, kami sudah pernah melakukan sosialisasi terhadap massa kampus ataupun masyarakat, tapi apa? Sangat sulit untuk bisa mengurangi masalah limbah. Menurut pengalaman pribadi saya setelah mengikuti beberapa kali pengabdian masyarakat, terdapat 2 faktor utama kenapa masyarakat Indonesia cenderung sulit untuk mengatasi limbahnya sendiri?

  1. Tidak ada keinginan dan kesadaran
  2. Ketika ada keinginan dan kesadaran, tidak ada fasilitas yang menunjangnya

Poin pertama, masyarakat cenderung berpikir sederhana, seperti contoh gambaran percakapan saya dengan salah seorang ibu rumah tangga:

Saya : “Ibu kalau buang sampah kemana?”

Ibu : “Ya neng, kalau sampah sayur¬sayur mah langsung aja buang ke belakang rumah, da nanti juga ketutup tanah aman”

Saya : “Kalau selain sayur¬sayuran kemana bu?”

Ibu : “Dibakar aja neng, kalau malas ngebakar, ya buang ke tempat yang deket aja da ga ada tempat sampah khusus disini mah”

Saya : “Kalau tempat penampungan sampahnya penuh gimana bu?”

Ibu : “Ya pindah tempat neng sambil nunggu diangkut sama petugas sampah, cari tanah atau lahan kosong aja”

Saya : “Ga ada bank sampah bu di daerah sini?”

Ibu : “Aduh neng ga ada, sibuk¬sibuk ibu-ibunya punya urusan sendiri, ga ada waktu untuk hal yang tidak darurat”

Saya : “Kalau ga ada kerjaan tapi mau bu?”

Ibu : “Ya mau atuh, bisa dijual kan ya neng?”

Saya : “Iya bu lumayan sebenernya, sampah-sampah plastik bisa diolah jadi aksesoris yang nantinya bisa dijual”

Dan seterusnya.

Dari percakapan diatas, terbukti kurangnya keinginan dan kesadaran akan lingkungan dari masyarakat. Namun ketika ada keinginan dan kesadaran untuk membenahi, fasilitas tidak menunjang. Salah siapa? Pemerintah yang tidak memberikan fasilitasnya? Atau masyarakat yang tidak bisa berinovasi untuk mengatasi masalahnya sendiri? Jika mau menyalahkan, keduanya memang salah. Kebiasaan buruk di masyarakat terus ditanam dan membuatnya memiliki akar yang kuat sehingga sulit untuk di runtuhkan, lalu pemerintah juga yang kurang me¬monitoring masyarakatnya sendiri, pemerintah aktif membuat segala macam regulasi dari yang sederhana hingga yang berbelit¬belit, tapi tidak memperhatikan apakah peraturan tersebut aplikatif untuk masyarakatnya atau tidak, seperti dalam tatanan bahasanya yang kadang sulit untuk dimengerti.

Menurut saya, yang harus dilakukan adalah “pertemukan” antara masyarakat dengan pemerintah. Buatlah semuanya transparan antara kedua belah pihak, saling mengertilah dengan keadaan yang ada, jangan egois. Tumbuhkan lah prinsip “win¬win solution”. Ketika pemerintah memiliki tujuan untuk memperbaikin keadaan Indonesia, masyarakat harus turut serta membantu untuk mewujudkannya, dan sebaliknya apabila masyarakat memiliki bantuan untuk memenuhi kebutuhannya, maka pemerintah harus mencoba untuk membantu juga.

Apa yang salah ketika 2 pihak saling berkoordinasi? Komunikasi yang baik antara 2 pihak adalah jembatan untuk mencapai 1 tujuan bersama. Jika satu pihak saja yang ingin maju dan berkembang, tanpa adanya dukungan dari pihak lain, tentu tidak akan bisa. Kehidupan itu memiliki siklus, saling terikat dan bergantung satu sama lain, satu merugi maka yang lain akan merugi. Jika kedua belah pihak berhasil untuk saling berkoordinasi, masalah di daerah-daerah Indonesia pasti bisa berkurang. Intinya adalah komunikasi dan koordinasi.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *