Waste : This is All (Y)our Fault!?

Published by Team WISE on

As part of our capacity building project with HMTL ITB, we asked the members to share their thoughts on the causes and solutions to poor waste management in Indonesia. Here, we would like to share the answer from Dhany Alif Prakoso. What do you think? Do you agree with what Dhany says?

[Original answer in Bahasa Indonesia below]

Indonesia is the fourth most populous country in the world with approximately 243 million people. Due to urbanization, the population is concentrated in Java island and its major cities. This has led to uneven development, with the government facing difficulties in developing appropriate infrastructure and technologies to deal with the needs and problems of its citizens. The growth in Indonesia’s population has caused more waste to be produced than is transported each day, 79% (1). The communities have high consumption and are unaware of environmental issues. The greater the population, the more waste is produced and the greater the need for waste management. Yet, awareness about the environment, such as 3R, is limited.

It will be very unfortunate if the rapid growth of Indonesia’s population is not met by more and better effort. The large population in Indonesia does not ensure the prosperity of the people and the quality of life in the community when there is still limited community awareness about the environment. More education will more awareness, improved regulation and a better environment. With 3.5 million tons of plastic waste being thrown into the ocean every year, Indonesia ranks second after China as the top two countries disposing plastic waste into the ocean based on the latest data in 2015 (2). The role of the community and government in contributing to waste problems is evident. The government should be firm in creating and implementing regulations, while the community should support the government by supporting the regulations.

Psychosocial factors at the level of the community (behavior) and contextual factors at the level of the government (laws) play an important role in solving waste problems. Indonesia has a large proportion of youth who should be more concerned about and active towards addressing existing waste problems. Indonesia’s wealth, culture (with more than 300 ethnic groups), and rapid growth in internet usage should become an opportunity to increase community awareness of existing issues. We could start a new tradition where environmental-friendliness harmonized with culture. This will not only increase our love of culture, but also our love towards the environment. For example: by combining batik or another traditional motifs with information about existing environmental conditions and the use of tradition as a solution by a community as an approach to raise awareness, or; by disseminating publications with information about the environment. At present, we can see that the laws regulating waste (UU 18 tahun 2008 and PP 81 tahun 2012), that four-wheeled and similar vehicles must have a rubbish bin, the application of paying for plastic, innovative vending machines that trade plastic waste and can for cash vouchers (3), and other measures have demonstrated the government’s efforts to increase community awareness and enthusiasm towards the environment. Unfortunately, Indonesia’s laws are not effective. They act as a formality or are flouted. The importance of the community in solving these problems is clear. Waste and sanitation issues cannot be solved if there is no synergy or collaboration between the government and community.

Change must start with an individual’s behaviour and evolve into a new culture that keeps spreading and is supported by the government. Indiscriminate waste disposal can become a behaviour that is considered disgraceful and to be avoided by the community, like in Japan (4). We have to be more autonomous, creative, and aware for our environment because without our support it’s impossible for the government to keep an eye to all of the aspects in this world largest archipelago country. We know well the environment around us and also it’s a problem because we lived and grew here. It’s kind a big challenge for our government to find all the problems in 13.466 islands (need 37 years to explore it if we took a day in each island) (5). Be active, care, and commit, a simple action to spread this culture besides it needs lots of effort in the beginning when there’s still no sympathy from the government, but we should believe, there will be lots of sympathies surround us that make our innovation become better and larger. Then, we’ll see that we’ve given social pressure to them. That’s the impact from sustainable social action, not only to give a service to the community, developing them. Maybe we are nothing, but actually we can change almost everything.

——————————————————————————————————-

Waste : This is All (Y)our Fault!?

Indonesia merupakan negara ke-4 dengan populasi terbanyak di dunia yaitu sekitar 243 juta jiwa. Padatnya populasi penduduk ini sangat disayangkan masih terpusat di Pulau Jawa dan kota-kota besar di Indonesia karena tingginya urbanisasi sehingga pembangunan pun masih belum merata dan pemerintah pun kesulitan dalam mengembangkan teknologi dan infrastruktur yang sesuai untuk mengatasi permasalahan dan memenuhi kebutuhan warganya. Pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih terpusat ini mengakibatkan jumlah sampah yang diproduksi masih lebih besar dibanding sampah yang terangkut perhari yaitu 79% (1) (berdasarkan infografis data dinas kebersihan Jakarta dan hasil riset Waste4Change) dimana masyarakat sangat konsumtif dan belum begitu sadar akan lingkungan. Semakin tinggi populasi maka akan semakin tinggi sampah yang dihasilkan karena kebutuhan pun akan meningkat ditambah dengan kurangnya kesadaran akan lingkungan terutama penerapan 3R.

Sangat disayangkan apabila pertumbuhan populasi yang pesat tidak selaras dengan upaya peningkatan kualitas. Populasi yang tinggi di Indonesia masih belum menjamin kesejahteraan warga dan juga kualitas dari tiap masyarakat dimana terbukti masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan lingkungan dimana seharusnya dengan semakin tingginya kualitas masyarakat (pendidikan) maka sifat/kesadaran akan peraturan maupun lingkungan sekitar akan semakin baik. Dengan pertumbuhan populasi yang pesat ini, Indonesia menempati urutan setelah Cina (hingga 3.5 juta ton sampah plastik ke laut ) yaitu peringkat ke-2 dari 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut (2) (berdasarkan data terakhir pada tahun 2015). Dapat dilihat bahwa peran masyarakat dan pemerintah sangat berpengaruh dalam permasalahan sampah ini dimana pemerintah seharusnya lebih tegas dalam membuat aturan serta menegakkan hukum yang sudah berlaku dan masyarakat ikut membantu pemerintah dengan patuh terhadap aturan.

Faktor psychosocial dari masyarakat (gaya hidup) dan faktor contextual (hukum) dari pemerintah sangat berperan dalam penyelesaian masalah persampahan. Indonesia yang didominasi oleh kalangan muda seharusnya bisa lebih peka dan aktif dalam menyelesaiakan permasalahan yang ada. Kekayaan akan budaya yang dimiliki Indonesia yaitu lebih dari 300 suku etnik dan pesatnya pengguna internet di Indonesia seharusnya bisa dijadikan peluang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah persampahan yang ada. Kita dapat memulai suatu tradisi baru yang ramah lingkungan dengan memadukan kebudayaan yang selain meningkatkan kecintaan kita akan budaya, juga dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap lingkungan misalnya dengan memadukan motif batik dengan informasi/gambaran keadaan lingkungan saat ini, dengan memanfaatkan tradisi yang dijunjung tinggi suatu masyarakat untuk sebuah solusi yang tepat dalam pendekatan untuk menyadarkan masyarakat tersebut atau dengan publikasi-publikasi informasi lingkungan yang disebar di dunia maya. Saat ini juga dapat kita lihat seperti selain dengan adanya undang-undang yang mengatur persampahan (UU 18 tahun 2008 dan PP 81 tahun 2012) serta diberlakukannya kendaraan khususnya roda 4 dan sejenisnya wajib memiliki tempat sampah, diterapkannya plastik berbayar, dan adanya inovasi vending machine yang dapat menukarkan sampah plastik dan kaleng dengan voucher uang tunai (3) sudah membuktikan upaya dan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran serta antusiasme masyarakat akan lingkungan. Namun, sayangnya dalam penegakan hukum di Indonesia masih belum baik sehingga aturan terkesan ada hanya untuk formalitas atau ada hanya untuk dilanggar sehingga disini dapat dilihat betapa pentingnya peran masyarakat juga dalam menyelesaikan masalah ini. Permasalah sampah/sanitasi tidak akan terselesaikan apabila tidak adanya kesinergisan dan kolaborasi dari pemerintah dan masyarakat.

Dimulai dari kebiasaan individu hingga menjadi sebuah budaya baru yang mendarah daging dan semakin meluas ditambah dengan dukungan pemerintah, membuang sampah sembarangan dapat menjadi hal yang sangat tercela dan dihindari masyarakat seperti halnya pada masyarakat Jepang (4). Kita juga harus mandiri, kreatif, dan peka akan lingkungan sekitar karena pemerintah tidak mungkin bisa memperhatikan segala aspek permasalahan yang ada di negeri kepulauan terbesar di dunia ini tanpa dukungan kita, masyarakat. Kita lebih mengerti permasalahan lingkungan sekitar kita karena kita lahir, tumbuh, dan besar disini sehingga sangatlah sulit bagi pemerintah untuk mengetahui semua permasalahan yang ada di negeri dengan 13.466 pulau ini dimana dibutuhkan 37 tahun untuk bisa menjelajahinya jika kita tinggal selama sehari di setiap pulau (5). Aktif, peduli, dan komitmen merupakan langkah yang baik untuk menyebarkan budaya ini walau mungkin awalnya sangatlah sulit dan pemerintah belum melihat urgensi atas tindakan kita, suatu saat nanti simpati akan datang dan gerakan kita akan terus berkembang pesat sehingga dapat memberikan tekanan sosial pada pemerintah. Itulah dampak dari aksi sosial yang berkelanjutan, membangun kehidupan sosial (community development) bukan melayani (community service). Mungkin kita bukanlah siapa-siapa di negeri ini, tapi sesungguhnya kita memiliki kemampuan untuk mengubahnya.

Source / Sumber:

  1. http://houseofinfographics.com/wp-content/uploads/2014/03/Infografis-Waste4Change-HiRes-Web.png
  2. http://news.detik.com/berita/3137410/indonesia-peringkat-ke-2-penghasil-sampah-ke-
  3. http://www.tribunnews.com/video/2015/07/31/video-mesin-atm-sampah-tukar-sampah-dengan-uang
  4. http://olahsampah.com/index.php/manajemen-sampah/39-rahasia-sukses-pengolahan-sampah-di-jepang
  5. https://www.youtube.com/watch?v=7RP0dtXRu7U

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *